Senin, 19 Januari 2015

Behind The Conversion




I used to be called Fransiskus Xaverius. Gue terlahir di keluarga Pancasila, alias beda agama. Nyokap seorang Muslim, sedangkan Bokap seorang penganut Katolik, so, gue udah terbiasa dengan ajaran-ajaran Islam dan Katolik sejak kecil. Dari kecil gue dididik secara Katolik, but somehow,  gue lebih suka dengerin ceramah Islami daripada  khotbah di gereja. Tapi mungkin karena gue masih kecil, gue ga tahu kenapa bisa ngerasa seperti itu. Well, sejujurnya walau gue dididik secara Katolik dari kecil, gue itu bukan seorang penganut Katolik yg religius, which means ga rajin-rajin amat ke gereja and gue juga nggak dibaptis sejak kecil. Baru ketika SMA, gue and adek gue dapat kesempatan ikut sekolah minggu di gereja dalam rangka persiapan baptis. Singkat cerita, akhirnya gue and adek gue pun dibaptis.

Beberapa waktu kemudian, di hari Natal, gue sekeluarga mudik ke keluarga besar bapak gue yang notabene most of them are Chatolics. Di waktu kumpul-kumpul keluarga itu, semuanya kasih selamat ke gue and adek gue karena baru aja dibaptis. Di satu momen, ada om gue yang tanya begini "Fransis, kenapa akhirnya milih dibaptis?". Ya mungkin itu cuman sebuah pertanyaan wajar  karena om gue heran melihat gue yang baru dibaptis pas udah gede (by the way, saat itu umur gue hampir 17 tahun), tapi bagi gue, pertanyaan itu terasa seperti tamparan. Dalam pemikiran gue selama ini, gue memilih pilihan dibaptis tentu aja wajar karena sejak kecil gue dididik secara Katolik, jadi bukan sesuatu yang aneh kan kalo gue dibaptis. Not a single moment I’ve ever thought about why I really should be baptized. And that was the first cause of my contemplation.

Next, tentang ajaran Katolik. Di dalam Katolik atau Nasrani pada umumnya, konsep ketuhanan itu disebut Tri Tunggal atau Trinitas yang terdiri dari Allah Bapa, Allah Putra and Roh Kudus. Walaupun, tampak ada tiga “individu” terpisah,  “mereka” nggak terpisah and nggak terhitung tiga namun tetap satu. Bingung? Sama. I, myself, can hardly understand this concept. It simply doesn't make sense. Setiap kali ada yg tanya tentang hal Trinitas, gue selalu jelasin sesuai di atas tadi, walaupun itu terdengar ga masuk akal. Dan seperti yang gue ceritain, ada waktu-waktu dimana gue masa bodoh dengan itu and tetep berusaha "mengimani" tanpa banyak tanya. Tapi ternyata makin ke sini, gue makin ga tenang. Until one day, I came across this concept of monotheism in Islam. Ya walaupun sejak kecil gue udah tahu tentang Islam, tapi Islam bagi gue ga lebih dari sekedar agama seperti agama yang lain. I used to think that we all actually worship the same God, just in different ways. Kembali topik, suatu ketika gue membaca terjemahan dan pembahasan Surah Al-Ikhlas and IT BLEW MY MIND. Surat Al- Ikhlas menyangkal setiap jengkal dasar keyakinan kaum Nasrani bahwa Tuhan memiliki anak dan Yesus adalah setara dengan Tuhan. Islam secara praktis dan logis menjelaskan bahwa Tuhan itu tunggal, Dia tak beranak atau diperanakan. Just as simple as that and it totally makes much more sense. And that was the second cause of my contemplation.

Well, dibalik keputusan gue dibaptis pas SMA itu sebenarnya ada alasan manusiawi juga. Jadi,  waktu itu, gue punya gebetan cewek Katolik yang religius and berasal dari keluarga yang religius juga. Dia sekeluarga tergolong aktif di gereja, jadi gue berusaha untuk mengimbangi dia. Kita sempet jadian di akhir kelas tiga, tapi cuman bertahan seminggu. And yet, I can hardly move on for the next 3,5 years.

Di masa-masa galau itu, satu ketika gue curhat sama temen gue. By the way, temen gue ini seorang Muslim, dia 1 tahun lebih muda. Anyway, setelah curhat kegalauan gue soal agama and susahnya move on, dia komen gini "Mas, mungkin Tuhan ga kasih jodoh ke kamu karena kamu sendiri ga yakin sama agama kamu sendiri. Gimana nanti mau membina hubungan kalo masalah keyakinan sendiri aja nggak jelas”. Komen itu rasanya to the jleb banget. Sebuah alasan yang simpel tapi mengena. Itu jadi tamparan kedua buat gue and that was the third cause of my contemplation.

Beberapa waktu setelah percakapan itu, somehow, gue bisa move on and I notice this friend of mine, She's an opponent and friend at the same time. Dia lawanku di seleksi debat universitas, though, actually, I knew her even before that. Dia juga partner-ku di sebuah organisasi. Singkat cerita, gue mulai jatuh hati sama dia. Tapi agama jadi dinding pemisah utama. Walaupun begitu, gue punya prinsip, gue nggak akan pernah pindah agama karena hal sepele seperti percintaan. Bagi gue itu bullshit kalo cowok or cewek pindah agama cuman karena mengikuti pasangan.

Nah, itu bikin gue merenung lama. Mungkin alasan yg bikin gue lama menerima Islam sebagai agamaku adalah kalimat ini,

          “The only thing stopping me from accepting was fear.... not fear in the sense of something bad, but fear of accepting something good, and thinking that I was not worthy.”

          Akhirnya gue banyak curhat ke beberapa orang. Selain itu, gue masih berusaha memastikan niat gue sendiri apakah masuk Islam ini karena temen yg gue ceritain tadi or bener-bener karena gue menerima Islam sebagai agama paling benar. Cukup lama gue berpikir and merenungkan semuanya, hingga akhirnya gue memberanikan diri untuk bersyahadat di tanggal 17 desember 2013 and now, you can call me Ahmad. J

Tidak ada komentar:

Posting Komentar