I used to be called Fransiskus Xaverius. Gue terlahir di keluarga Pancasila, alias beda agama. Nyokap seorang Muslim, sedangkan Bokap seorang penganut Katolik, so, gue udah terbiasa dengan ajaran-ajaran Islam dan Katolik sejak kecil. Dari kecil gue dididik secara Katolik, but somehow, gue lebih suka dengerin ceramah Islami daripada khotbah di gereja. Tapi mungkin karena gue masih kecil, gue ga tahu kenapa bisa ngerasa seperti itu. Well, sejujurnya walau gue dididik secara Katolik dari kecil, gue itu bukan seorang penganut Katolik yg religius, which means ga rajin-rajin amat ke gereja and gue juga nggak dibaptis sejak kecil. Baru ketika SMA, gue and adek gue dapat kesempatan ikut sekolah minggu di gereja dalam rangka persiapan baptis. Singkat cerita, akhirnya gue and adek gue pun dibaptis.
Beberapa waktu kemudian, di hari Natal, gue sekeluarga mudik ke keluarga besar bapak gue yang
notabene most of them are Chatolics.
Di waktu kumpul-kumpul keluarga itu, semuanya kasih selamat ke gue and adek gue karena baru aja dibaptis.
Di satu momen, ada om gue yang tanya begini "Fransis, kenapa akhirnya milih dibaptis?". Ya mungkin itu cuman sebuah
pertanyaan wajar karena om gue
heran melihat gue yang baru dibaptis pas udah gede (by the way, saat itu umur gue hampir 17 tahun), tapi bagi gue,
pertanyaan itu terasa seperti tamparan. Dalam pemikiran gue selama ini, gue memilih pilihan dibaptis tentu aja
wajar karena sejak kecil gue dididik secara Katolik, jadi bukan sesuatu yang
aneh kan kalo gue dibaptis. Not a
single moment I’ve ever thought about why I really should be baptized. And that was the first cause of my
contemplation.
Next, tentang ajaran Katolik. Di dalam Katolik atau Nasrani pada umumnya, konsep
ketuhanan itu disebut Tri Tunggal atau Trinitas yang terdiri dari Allah Bapa,
Allah Putra and Roh Kudus. Walaupun,
tampak ada tiga “individu” terpisah,
“mereka” nggak terpisah and
nggak terhitung tiga namun tetap satu. Bingung? Sama. I, myself, can hardly understand this concept. It simply doesn't make
sense. Setiap kali ada yg tanya tentang hal Trinitas, gue selalu jelasin
sesuai di atas tadi, walaupun itu terdengar ga masuk akal. Dan seperti yang gue
ceritain, ada waktu-waktu dimana gue masa bodoh dengan itu and tetep berusaha "mengimani" tanpa banyak tanya. Tapi
ternyata makin ke sini, gue makin ga tenang. Until one day, I came across this concept of monotheism in Islam.
Ya walaupun sejak kecil gue udah tahu tentang Islam, tapi Islam bagi gue ga
lebih dari sekedar agama seperti agama yang lain. I used to think that we all actually worship the same God, just in
different ways. Kembali topik, suatu ketika gue membaca terjemahan dan
pembahasan Surah Al-Ikhlas and IT BLEW MY MIND. Surat Al- Ikhlas menyangkal setiap jengkal dasar keyakinan kaum
Nasrani bahwa Tuhan memiliki anak dan Yesus adalah setara dengan Tuhan. Islam
secara praktis dan logis menjelaskan bahwa Tuhan itu tunggal, Dia tak beranak
atau diperanakan. Just as simple as that
and it totally makes much more sense. And
that was the second cause of my contemplation.
Well, dibalik keputusan
gue dibaptis pas SMA itu sebenarnya ada alasan manusiawi juga. Jadi, waktu itu, gue punya gebetan cewek Katolik yang
religius and berasal dari keluarga yang
religius juga. Dia sekeluarga tergolong aktif di gereja, jadi gue berusaha
untuk mengimbangi dia. Kita sempet jadian di akhir kelas tiga, tapi cuman
bertahan seminggu. And yet, I can hardly
move on for the next 3,5 years.
Di masa-masa galau itu,
satu ketika gue curhat sama temen gue. By
the way, temen gue ini seorang Muslim, dia 1 tahun lebih muda. Anyway, setelah curhat kegalauan gue
soal agama and susahnya move on, dia komen gini "Mas,
mungkin Tuhan ga kasih jodoh ke kamu karena kamu sendiri ga yakin sama agama
kamu sendiri. Gimana nanti mau membina hubungan kalo masalah keyakinan sendiri
aja nggak jelas”. Komen itu rasanya to
the jleb banget. Sebuah alasan yang simpel tapi mengena. Itu jadi tamparan
kedua buat gue and that was the third cause of my contemplation.
Beberapa waktu setelah
percakapan itu, somehow, gue bisa move on and I notice this friend of mine, She's an opponent and friend at the same
time. Dia lawanku di seleksi debat universitas, though, actually, I knew her even before that. Dia juga partner-ku di sebuah organisasi. Singkat
cerita, gue mulai jatuh hati sama dia. Tapi agama jadi dinding pemisah utama. Walaupun
begitu, gue punya prinsip, gue nggak akan pernah pindah agama karena hal sepele
seperti percintaan. Bagi gue itu bullshit
kalo cowok or cewek pindah agama cuman karena mengikuti pasangan.
Nah, itu bikin gue
merenung lama. Mungkin alasan yg bikin gue lama menerima Islam sebagai agamaku
adalah kalimat ini,
“The only thing stopping me from accepting was fear.... not fear in the sense of something bad, but fear of accepting something good, and thinking that I was not worthy.”
Akhirnya gue banyak
curhat ke beberapa orang. Selain itu, gue masih berusaha memastikan niat gue
sendiri apakah masuk Islam ini karena temen yg gue ceritain tadi or bener-bener karena gue menerima Islam
sebagai agama paling benar. Cukup lama gue berpikir and merenungkan semuanya, hingga akhirnya gue memberanikan diri
untuk bersyahadat di tanggal 17 desember 2013 and now, you can call me Ahmad. J
Tidak ada komentar:
Posting Komentar